Tantangan Regenerasi Petani di balik Bonus Deografi Dalam Perspektis Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian

Dewan Pengurus Wilayah (DPW) 1 POPMASEPI menggelar sebuah kegiatan kajian dan diskusi yang merupakan salah satu program dari bidang Kajian Strategis dan Advokasi (KASTRAD) dengan ditujukan secara terbuka bagi seluruh mahasiswa sosial ekonomi pertanian yang tergabung dalam POPMASEPI. Kegiatan ini diinisiasi oleh bidang KASTRAD untuk mengkaji isu isu seputaran pertanian yang sedang berkembang dalam masyarakat khususnya dalam lingkup wilayah pulau Sumatera dan dianggap relevan untuk didiskusikan. Selain itu bidang KASTRAD bermaksud memberikan fasilitas berupa ruang untuk bernalar, berpendapat serta berargumen dalam perspektif keprofesian sosial ekonomi dan pertanian melalui adanya program ini. Hal lain yang menjadi tujuan jangka panjang adalah untuk menumbuhkan serta merawat rasa kepedulian mahasiswa SEP terhadap kondisi pertanian hingga masyarakat tani yang ada di Indonesia pada umumnya dan khususnya dalam lingkup pulau sumatera. Harapannya dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti ini dapat menjadi sebuah wadah untuk mempertajam cakrawala pandang dari mahasiswa agar nantinya mampu menberikan solusi dan inovasi terhadap permasalahan sektor pertanian.
Dalam kegiatan perdana yang diadakan pada tanggal 14 desember 2021. Kajian diskusi seri pertama ini, bidang KASTRAD mencoba membahas topik mengenai “Tantangan Regeneasi Petani di balik Bonus Deografi Dalam Perspektis Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian”. Topik tersebut diaanggap relevan karena dalam beberapa kesempatan belakang cukup menjadi buah bibir yang kerap diperbincangkan berbagai pihak sehingga patut untuk dikaji kembali. Pada dasarnya Indonesia yang sebagaian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani diperkirakan pada tahun 2030 akan mengalami suatu masa yang disebut Bonus Demografi. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan Indonesia diperkirakan akan menghadapi era bonus demografi beberapa tahun ke depan, tepatnya pada tahun 2030 hingga 2040 mendatang. Bonus demografi yang dimaksud adalah masa di mana penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan lebih besar dibanding usia nonproduktif (65 tahun ke atas) dengan proporsi lebih dari 60% dari total jumlah penduduk Indonesia Artinya jumlah usia produktif akan lebih tinggi dibanding usia non prduktif. Untuk itu melalui kegiatan ini bidang KASTRAD bermaksud memberikan ruang diskusi kepada mahasiswa sosial ekonomi pertnian agar ikut andil dan berperan dalam mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan bonus demografi tersebut melalui gagasan-gagasan dari mahasiswa yang dapat memberikan sebuah solusi yang mungkin akan dibutuhkan oleh masyarakat.
Kegiatan ini dipandu langsung oleh pengurus bidang KASTRAD, Fatra Hidayat selaku moderator dan Hamdil Fajri selaku pemantik jalannya diskusi. diawal diskusi pemantik menyampaikan bahwa saat ini negara indonesia sedang mengalami adanya kemungkinan krisis regeneransi petani. Hal ini digambarkan melalui persentase yang menunjukan bahwa rata-rata usia petani di indonesia didominasi oleh usia 35-65 tahun. Dalam diskusi tersebut beliau menyampaikan bahwa terdapat sebuah tantangan besar kaitannya dengan kondisi usia petani Indonesia hari ini jika dihubungkan dengan fenomena bonus demografi yang akan dihadapi. Berdasarkan hal tersebut, dirasa perlu untuk kemudian mengalihkan perhatian terhadap generasi muda yang akan memasuki usia produktif serta tantangan-tantangan yang akan dihadapi untuk dapat memanfaatkan momentum bonus demografi menjadi sebuah peluang untuk merealisasikan pembangunan pertanian yang berkelanjutan di masa yang akan datang. Menyadari hal ini maka fokus awalnya adalah bagaiman membangun kesadaran serta menumbuhkan minat generasi muda saat ini untuk turun langsung dan berperan aktif dalam sektor pertanian.
Jalannya diskusi kali ini mendapat sambutan hangat dari mahasiswa sosial ekonomi pertanian yang khususnya tergabung dalam wilayah 1 POPMASEPI. Dalam diskusi tersebut terdapat berbagai pandangan dari mahasiwa yang pada intinya berharap adanya kesadaran dari generasi muda, khususnya sarjana pertanian untuk ikut andil serta berperan aktif secara langsung dalam sektor pertanian melalui berbagai lini. Senada dengan tujuan jangka panjang dari diadakannya kegiatan ini, penumbuhan minat dan kesadaran bagi generasi muda khususnya mahasiswa pertanian harapannya akan menjadi salah satu langkah awal untuk dapat merubah tantangan bonus demografi menjadi sebuah peluang yang berpotensi dapat menjadi penggerak dalam pelaksanaan pembangunan pertanian berkelanjutan. Mahasiswa SEP yang menjadi peserta dalam diskusi tersebut juga menyampaikan harapan tentang adanya suatu kebijakan dari berbagai Stakeholder untuk dapat mendukung peningkatan minat generasi muda agar dapat siap terjun menjadi bagian dalam membangun sektor pertanian di masa yang akan datang.
Selain itu, disampaikan juga di awal oleh saudara Ilham Fahri selaku Kepala Bidang KASTRAD DPW 1 POPMASEPI bahwa permasalahan yang dikaji serta didiskusikan dalam kesempatan ini harus benar-benar diperhatikan dan kemudian untuk sama-sama dicermati. Harapannya melalui dikajinya isu yang dianggap relevan ini, kita sebagai mahasiswa pada umumnya dan mahasiswa SEP pada khususnya dapat menyadari tentang adanya tantangan ini serta dapat menjadi langkah awal kita bersama untuk mengambil peran sebagai agen pembaharuan dalam masyarakat sosial serta benar-benar mengukuhkan diri sebagai kontrol sosial dalam kehidupan sosial masyarakat. Peran ini tentunya dapat kita capai dengan terus bekerja sama untuk saling berperan dalam mengkaji isu-isu yang berkembang sehingga dapat dijadikan sebuah momentum dalam membangun sebuah gerakan generasi muda untuk menjadi garda terdepan dalam menyambut tantangan-tantangan pembangunan pertanian yang akan datang.

Leave a Reply