Polemik Kenaikan Harga Minyak Goreng di Tengah Pandemi

By : Farhan Nouval Najib
Kabid Kastrad DPP

Polemik Kenaikan Harga Minyak Goreng di Tengah Pandemi

Kondisi perekonomian Indonesia mengalami ketidakstabilan selama pandemi Covid-19 bahkan mengalami penurunan. Namun sektor pertanian adalah salah satu sektor yang masih tetap kokoh dan menjadi pilar utama untuk membantu perekonomian Negara, terutama di bidang sawit.

Diperkuat dengan hasil riset Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan nilai total Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia atas dasar harga berlaku (ADHB) tahun 2021 mencapai Rp16,97 kuadriliun). Dan sektor pertanian menjadi sektor penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) terbesar kedua di Indonesia. Yang pertama adalah sektor industri pengolahan dengan nilai total Rp3,27 kuadriliun (19,25%). Lalu diikuti sektor pertanian mencapai Rp2,25 kuadriliun sepanjang 2021. Nilai tersebut berkontribusi sebesar 13,28% terhadap PDB nasional.

Sampai saat ini, minyak goreng masih menjadi bahan pokok yang paling banyak dicari di Indonesia. Hal tersebut diperkuat dengan pemberitaan di Tempo per tanggal 3 Februari 2022 kebutuhan minyak goreng di Indonesia mencapai 280 juta liter dan hanya terpenuhi sebanyak 63 juta liter. Hampir seluruh masyarakat Indonesia masih mengkonsumsi minyak goreng sebagai kebutuhan pokok.

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang dilakukan BPS, menunjukkan bahwa konsumsi minyak goreng sawit yang terus meningkat, terutama di tingkat rumah tangga. Selama periode 2015-2020 peningkatan konsumsi minyak goreng memang tidak bisa dipungkiri. Berikut rinciannya: 11.211 liter/kapita/tahun (2015); 11.680 liter/kapita/tahun (2016); 10.719
liter/kapita/tahun (2017); 10.788 liter/kapita/tahun (2018); 11.086 liter/kapita/tahun (2019).
11.383 liter/kapita/tahun (2020).

Dari data di atas, menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat Indonesia untuk minyak goreng memang terus naik. BPS menghitung jumlah rata-rata kenaikan konsumsi minyak goreng sawit di tingkat rumah tangga di Indonesia selama periode 2015-2020 mengalami peningkatan sebesar 2,32 persen per tahun. Walaupun kebutuhan yang selalu meningkat, tetapi Indonesia tidak mengalami kekurangan sedikit pun minyak sawit. Sebaliknya, pada tahun 2019 terdapat data dari Publikasi Buletin Konsumsi Pangan Kementerian Pertanian yang menunjukkan bahwa produksi minyak goreng sawit di Indonesia masih mampu memenuhi keseluruhan konsumsi nasional. Bahkan sebagian dari produksi tersebut diekspor ke luar negeri, yang volumenya diperkirakan mencapai 20,36 juta ton.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada tanggal 29 oktober 2021, minyak goreng yang paling sering digunakan oleh masyarakat di Indonesia adalah minyak goreng sawit. BPS juga menyebutkan bahwa minyak goreng sawit memiliki banyak keunggulan dibanding jenis-jenis minyak lain dan cocok dengan kebiasaan menggoreng masyarakat Indonesia. Indonesia sendirisudah menjadi produsen minyak sawit nomor satu di dunia sejak tahun 2006. Indonesia adalah
salah satu penghasil kelapa sawit terbesar di dunia dengan menghasilkan 43,5juta ton dengan pertumbuhan rata-rata 3,61 persen per tahun. Dengan seperti itu tidak menutup kemungkinan banyak orang kaya di Indonesia lahir dari pengusaha kelapa sawit.

Dengan kekayaan kelapa sawit di Indonesia hari ini, justru masyarakat Indonesia sedang dilanda dilematis karena melonjaknya harga minyak goreng. Minyak goreng kemasan 2 liter yang semula bisa didapatkan dengan harga Rp25.000 kini paling murah dibanderol dengan harga Rp40.000. Beberapa merk bahkan dijual di atas Rp50.000. Dengan kenaikan harga minyak yang bisa dibilang drastis menimbulkan banyak problematika seperti susahnya ibu rumah tangga untuk memasak, menurunnya omzet usaha, dll.

Kenaikan harga minyak goreng juga tidak terlepas dari beberapa faktor, salah satunya adalah karena nilai ekspor yang di pengaruhi oleh kenaikan harga minyak sawit mentah/crude palm oil (CPO) internasional. Dengan demikian situasi ini ikut mengkatrol harga
produk turunan sawit seperti minyak goreng. Meski menjadi salah satu penghasil sawit terbesar di dunia, naik turunnya harga komodits sawit tidak dikendalikan oleh pemerintah Indonesia, justru dikendalikan oleh bursa di Negeri Jiran yakni Bursa Malaysia Derivatives (BMD). Selain berpatokan pada BMD, harga minyak sawit yang dijual di Indonesia juga mengacu pada bursa komoditas yang berada di Rotterdam, Belanda.

Dengan kenaikan harga minyak goreng bukan hanya menimbulkan dilematis terhadap masyarakat, tetapi juga terhadap petani sawit itu sendiri. Sepanjang 2021 petani sawit justru banyak mengalami kondisi dilematis. Pada satu sisi harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit mengalami peningkatan, di sisi lain harga sarana produksi seperti pupuk ditingkat kios juga naik dengan harga tak wajar. Hal ini berimbas pada peningkatan biaya produksi petani sawit.

Faktor lain yang mempengaruhi kenaikan harga minyak sawit adalah dengan berpengaruhnya produksi minyak nabati yang sedang menurun. Sementara itu harga minyak
nabati yang tetap tinggi sehingga menjadikan minyak sawit sebagai tumbal. Banyak negara-negara industri yang lebih fokus untuk membeli minyak sawit di karenakan harganya yang lebih rendah.

Pada saat yang bersamaan pemerintah sedang menggarap project B30 (Biodiesel 30),dengan komposisi 30 persen biodiesel dan 70 persen solar. Project pemerintah tersebut menjadi salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kelangkaan minyak goreng yang dimana perebutan CPO menjadi produk olahan selain minyak goreng.
Yang tak kalah penting adalah pemerintah juga harus terus memperhatikan korporasi-korporasi yang bergerak di bidang sawit ini, karena tak lain korporasi juga turut andil dalam kenaikan harga minyak goreng ini. Mengingat pada 2009 lalu Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menghukum sejumlah produsen minyak goreng untuk membayar denda dengan total nilai sebesar Rp 299 miliar. Sanksi diberikan karena dugaan kartel dalam penentuan harga minyak goreng. Dan pemerintah juga harus memantau lahan sawit yang ada di Indonesia karena banyak lahan yang tidak mempunyai izin resmi. Di kuatkan dengan data bahwa ada 16,3 juta hektar di Indonesia yang tersebar di 26 Provinsi dan hanya 14,6 juta hektar saja yang mempunyai
izin resmi.

Dibalik permasalahan yang terus terjadi dan semakin berkembang, tentunya pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menangani kasus kenaikan harga minyak goreng ini. Salah satunya adalah dengan menggelar berbagai operasi pasar untuk berusaha menstabilkan harga minyak goreng. Namun, usaha ini dirasa belum berhasil dikarenakan sampai saat ini harga minyak goreng masih sangat mahal. Jika memang pemerintah serius untuk melakukan operasi pasar, pemerintah juga harus memperhatikan dari sektor-sektor terkecilnya pemerintah harus tahu bagaimana pergerakan para korporasi dalam menyuplai minyak goreng; pemerintah juga harus tegas untuk menghukum para mafia penimbun minyak tanpa pandang bulu.

Pemerintah juga telah mengupayakan stabilisasi minyak goreng dengan mengubah Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 7 Tahun 2020 yang mengandung aturan HET minyak goreng kemasan sederhana ditingkat konsumen menjadi Rp 14.000 per liter. Namun, lagi-lagi upaya ini dirasa belum berhasil karena harga minyak goreng di pasaran masih terlampau tinggi.

Berangkat dari kasus ini mungkin pemerintah bisa menambah pabrik minyak goreng agar kita bisa lebih mandiri dan terhindar dari kelangkaan serta kenaikan harga minyak goreng. Dan pemerintah juga bisa lebih tegas terhadap pabrik minyak goreng di Indonesia yang belum terdaftar sebagai penyedia dan pendistribusi minyak goreng. Dari data pabrik minyak goreng yang ada di Indonesia, sekitar 104 pabrik minyak goreng dan hanya 47 pabrik yang taat akan kebijakan pemerintah. Dari 104 pabrik bahkan pemerintah hanya menargetkan 81 pabrik yang taat akan kebijakan yang mewajibkan suplai 14 ribu ton per hari dengan kebutuhan nasional yang hanya sebesar 7 ribu ton. Jika pemerintah tegas memperhatikan sektor ini, Indonesia tidak akan lagi mengalami kelangkaan minyak goreng.

Semoga dengan kejadian ini pemerintah semakin cermat dan lebih solutif untuk memperhatikan sektor pertanian terutama sawit yang menjadi permasalahan di masyarakat pada hari ini. Agar tercapainya kesejahteraan masyarakat dengan mengingat kepada kemudahan untuk
mengkonsumsi serta memproduksi pangan itu sendiri.

Sumber :
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/02/15/ini-kontribusi-sektor-pertanianterhadapekonomi-ri-tahun-
2021#:~:text=Pertanian%20merupakan%20sektor%20penopang%20terbesar,%2C28%25%20ter
hadap%20PDB%20nasional.
https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/money/read/2022/01/30/062749426/ripenghasi
l-sawit-terbesar-dunia-tapi-harganya-diatur-dari-malaysia
https://www.google.com/amp/s/bisnis.tempo.co/amp/1561904/mendag-sebutsepertigakebutuhan-minyak-goreng-nasional-su
https://www.google.com/amp/s/news.detik.com/kolom/d-5914943/mengurai-polemikhargaminyak-goreng/amph

ttp://epublikasi.setjen.pertanian.go.id/epublikasi/buletin/konsumsi/2018/Buletin_Konsumsi_Pangan_Semester_2_2018/files/assets/basic-html/page42.html

https://www.google.com/amp/s/m.jpnn.com/amp/news/bunda-perlu-tahu-ada-104-pabrikminyak-goreng-di-indonesia-tetapi-aneh

Leave a Reply