PERAN DAN KENDALA MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN
AGROWISATA DI DESA JABOI KECAMATAN SUKAJAYA KOTA
SABANG, ACEH

Oleh: Lisnawati (Universitas Malikussaleh)

Sabang memang dikenal dengan wisata baharinya yang indah dan panorama
bawah lautnya yang mengagumkan. Apalagi lokasi dari satu destinasi wisata ke
destinasi lainnnya tidak begitu jauh, sehingga bisa memudahkan pengunjung
berganti lokasi setiap saat. Begitu juga dengan destinasi wisata sejarahnya yang
begitu kaya. Sabang juga memiliki destinasi wisata ekstrem bagi pengunjung yang memiliki jiwa petualang. Seperti di gunung berapi yang masih aktif di Jaboi.
Gunung berapi Jaboi ini terletak di Desa Jaboi, Kecamatan Sukajayaa atau 15
kilometer dari kota Sabang.

Agrowisata merupakan kegiatan wisata pada sektor pertanian yang bertujuan untuk membantu meningkatkan pendapatan petani. Pengembangan
kawasan agrowisata berbasis masyarakat bertujuan untuk meningkatkan peran aktif
masyarakat lokal dalam pengelolaan agrowisata ini karena pengetahuan alam dan potensi budaya memiliki nilai jual sebagai daya tarik agrowisata. Perkembangan agrowisata yang berbasis masyarakat yang berkelanjutan memerlukan kepedulian dan partisipasi masyarakat lokal untuk senantiasa berinovasi dan kreatif dalam pengelolaan agrowisatanya. Adanya pengelolaan agrowisata tentunya akan memberikan kehidupan yang standar melalui keuntungan ekonomi dari tempat
tujuan wisata. Peran masyarakat juga berdampak langsung maupun tidak langsung pada peningkatan ekonomi.

Keberadaan pelabuhan penyeberangan yang representatif menjadi syarat utama untuk memajukan wilayah kepulauan. Pelabuhan merupakan prasarana utama untuk mendukung perputaran roda perekonomian pada tiap kawasan di Aceh
yang terpisah oleh laut.

Sabang memiliki banyak hal yang dapat dikembangkan dan dioptimalkan.
Di antaranya adalah fasilitas yang dapat mengoptimalkan potensi sekaligus
mendatangkan penghasilan dan keuntungan bagi kawasan. Revitalisasi Pelabuhan Penyeberangan Balohan Sabang dilakukan mengingat kondisi pelabuhan sudah tidak layak lagi. Kondisi pelabuhan semrawut dan sangat sempit, dengan infrastruktur dan areal parkir yang terbatas.

Infrastruktur Pelabuhan Penyeberangan Balohan yang telah diredesain menjadi publik area, yang dapat dimanfaatkan bukan hanya oleh pengguna jasa pelabuhan, juga seluruh masyarakat Sabang. Proyek ini meliputi pembangunan
Gedung Kapal Lambat, Pembangunan Gedung Kapal Cepat, Pembangunan Gedung Souvernir dan Kafetaria, Jembatan Moveable Bridge (MB) untuk kapal lambat, pemancangan sheet pile, jembatan tipe A dan jembatan tipe B, jembatan tipe C, serta reklamasi dan pemagaran pada areal pelabuhan seluas 4,5 hektare.

Pembangunan pelabuhan ini menggunakan anggaran APBN melalui
Multiyers Contract Tiga Tahun sejak tahun 2017 sampai tahun 2019. Revitalisasi
ini seharusnya telah rampung pada tahun 2019 bila pengerjaan dimulai dari tahun 2017 Namun, dikarenakan pengerjaan dimulai pada pertengahan tahun 2018, maka waktu pengerjaannya ditambah hingga tahun 2020.

Upaya ini memiliki tiga tujuan yaitu: a) sebagai upaya meningkatkan standar keamanan dan kenyamanan Pelabuhan Penyeberangan Balohan Sabang. b) memberikan image positif untuk Kota Sabang sebagai kawasan wisata dengan
bangunan publik yang memiliki standar pelayanan yang baik. c) untuk memberikan alternatif pilihan yang lebih banyak bagi para penumpang atau pengunjung Pelabuhan Penyeberangan Balohan.

Kunjungan wisatawan mancanegara juga meningkat drastis ke Sabang, pada tahun 2018 dengan total kunjungan 29.827 orang dan pada tahun 2017 dengan total, 2.981 orang. Data kunjungan tersebut, bersumber dari Departemen Perhubungan
Jenderal Laut yaitu Kantor Admisnistrasi Pelabuhan Balohan Sabang yang rutin
melayani penyeberangan dari Pelabuhan Ulee-Lheue, Banda Aceh-Sabang.

Masyarakat adalah sekumpulan orang yang saling berinteraksi secara kontinyu, sehingga terdapat relasi sosial yang terpola dan terorganisasi. Masyarakat
juga diartikan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang meliputi
populasi, kebudayaan, organisasi sosial serta lembaga-lembaga sosial dimana
mempunyai tujuan bersama dan tinggal di dalam suatu wilayah atau kawasan yang
sama.

Indonesia menyimpan banyak potensi kekayaan alam, keanekaragaman bahasa, suku, agama, adat istiadat dan budaya. Selain memiliki sumber daya alam yang melimpah, Indonesia juga memiliki banyak tempat yang berpotensi besar
untuk dijadikan sebagai objek wisata menarik dan dapat mendatangkan keuntungan bagi negara.

Pemko Sabang terus melakukan promosi destinasi wisata bahari dan sejarah
guna meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara agar
ekonomi masyarakat Sabang bertumbuh kembang. Objek wisata yang kerap
dikunjungi wisatawan domestik maupun internasional ketika berlibur ke Sabang di
antaranya, penyelaman di atas permukaan laut (snorkling) di kawasan Pulau Rubiah
serta menyelam di kedalaman 15 hingga 60 meter (diving) di Gampong (desa)
Iboih, Sukakarya, Sabang.

Desa Jaboi “ Sebuah desa yang terletak di Kecamatan Sukajaya, Kota Sabang “. Desa ini terkenal dengan dua destinasi tempat wisata yaitu Geothermal atau Gunung Api Aktif dan Pantai Batee Tamon. Gunung api di desa Jaboi di rencanakan akan dijadikan sebagai sumber energi listrik bagi warga. Dan diperkirakan gunung api tersebut mampu menghasilkan energi sebanyak 10mw dan dengan adanya energi sendiri diharapkan desa Jaboi bisa menjadi desa yang mandiri dalam hal penanganan kebutuhan warga akan listrik. Pengunjung juga bisa menikmati keindahan kawah gunung yang masih aktif. Di sekitaran kawah tersebut pengunjung bisa melihat aliran air panas yang memiliki kandungan asam sulfat, asam bikarbonat, dan sulfur. Pemandangan di kawasan Gunung Jaboi memang terbilang menarik dan lokasinya indah, dengan bebatuan berwarna putih yang membuat seluruh latar kawasan pegunungan ini putih juga. Pengunjung memang tidak bisa mendapati pemandangan pohon rindang yang banyak, tapi pepohonan mati dengan bentuk yang unik lagi pemandangan yang eksotis. Hijaunya dedaunan dan rindangnya daun di pepohonan terletak ujung kawasan ini.

Selain gunung merapi, desa Jaboi juga mengembangkan pariwisata bawah
laut yang diberi nama pantai Batee Tamon. Keindahan bawah laut Pantai Batee
Tamon dipercaya memiliki keindahan yang lebih bagus dari pada taman laut di
daerah lainnya. Namun, kekurangan dari pantai Batee Tamon adalah belum adanya
gerai yang menyewakan alat untuk snorkling, diving dan olahraga laut lainnya.

Agrowisata dapat memberikan manfaat yang nyata bagi perkembangan
pariwisata yakni membangun wilayah perdesaan serta menciptakan desain
lingkungan yang estetis apabila dikelola dan dirancang dengan baik. Melalui
kegiatan agrowisata, fungsi pariwisata dapat berperan sebagai budidaya pertanian sekaligus fungsi pelestarian budaya dan masyarakat. Dukungan kondisi alam dan lingkungan yang kondusif menjadikan sektor agrowisata di desa Jaboi memiliki potensi yang kuat. Akan tetapi masih perlu adanya pengembangan sarana dan prasarana lebih lanjut guna mengoptimalkan daya tarik wisata.

Berdasarkan hasil penelitian kendala masyarakat dalam mengembangkan
agrowisata di desa Jaboi adalah a) kendala stuktural dimana belum adanya bantuan
yang diberikan oleh dinas pariwisata dalam pengembangan agrowisata/ fasilitas
pendukung agrowisata dan belum maksimalnya promosi yang dilakukan, b)
kendala masyarakat kurangnya fasilitas pendukung dimana terkendala pada modal, dan keterbatasan finansial pendukung, c) kendala individual masih kurangnya pengetahuan mengenai keparawisataan.

Dampak Keterlibatan Masyarakat Dalam Pengelolaan Agrowisata
a. Dampak Sosial

  1. Keberadaan agrowisata di desa Jaboi mampu membuat generasi muda menjadi tertarik dengan sektor pertanian. Semula petani dianggap sebagai profesi yang rendah dan berpenghasilan kecil.
  2. Memberikan pengetahuan mengenai usaha di bidang pariwisata, masyarakat yang tergabung dalam keanggotaan dapat mempelajari bagaimana cara melakukan
    pelayanan terhadap wisatawan yang baik, cara menjadi pemandu wisatawan, selain itu masyarakat desa Jaboi juga dapat berinteraksi langsung dengan wisatawan.
  3. Agrowisata dapat meningkatkan kerukunan dalam bermasyarakat. Seperti dalam kegiatan gotong-royong dan menjaga kebersihan.

b. Dampak Ekonomi

1. Meningkatnya kesejahteraan masyarakat desa Jaboi dengan tujuan ingin mengangkat taraf hidup masyarakat desa.
2. Masyarakat non petani juga bisa merasakan dampak positif dari agrowisata di desa Jaboi karena dengan ramainya wisatawan yang berkunjung dapat membuka peluang untuk masyarakat non petani terlibat dalam kegiatan pariwisata misalnya membuat sebuah rumah makan, menjual berbagai olahan khas Kota Sabang.

Agrowisata tidak terbatas pada objek dengan agrowisata yang luas, agrowisata bisa dilakukan dengan skala yang kecil dan diharapkan dapat menjadi media pendidikan dan budaya, daya tarik wisata ini menjadi sarana promosi produk
lokal.

Perencanaan dan pengembangan kawasan agrowisata ini tidak lepas dari peran berbagai pihak yang terkait yaitu pengelola, petani maupun wisatawan itu
sendiri. Peran mereka bersama dengan interaksi sangat penting untuk menuju
sukses pengembangan agrowisata. Sampai saat ini berbagai objek wisata yang
potensial relatif belum banyak menarik pengunjung, antara lain karena terbatasnya sarana dan prasarana yang tersedia dan kurangnya promosi dan pemasaran kepada masyarakat luas baik di dalam maupun di luar negeri. Untuk itu perlu ditempuh suatu koordinasi promosi antara pengelola dengan berbagai pihak yang berkecimpung dalam bidang promosi dan pemasaran objek-objek agrowisata, baik instansi pemerintah maupun pihak swasta.

1.Atraksi
Atraksi di kawasan agrowisata Jaboi dapat dibedakan menjadi atraksi utama
dan atraksi pendukung. Atraksi utama di kawasan agrowisata desa Jaboi berupa
kegiatan wisata gunung berapi serta pemandangan, keunikan batuan, dan
keragaman tumbuhannya. Selain atraksi utama terdapat pula atraksi pendukung
seperti halnya berkeliling gunung berapi dengan cara menggunakan motor ATV
dan juga adanya papan pemanah.

Pendekatan pengembangan agrowisata, meliputi: (1) Pengembangan berbasis konservasi, pola pembinaan yang tetap mempertahankan keasrian agro ekosistem dengan mengupayakan kelestarian sumber daya alam lingkungan hidup, sejarah, budaya dan rekreasi. (2) Pengembangan berbasis masyarakat, pola
pembinaan masyarakat yang menempatkan agrowisata sebagai pemberdayaan masyarakat petani untuk dapat memperoleh nilai tambah baik dari sisi hasil pertanian dan kunjungan wisata serta efek ganda dari penyerapan hasil pertanian yang merupakan sinergitas antara industri pariwisata/pengelola pariwisata dan masyarakat serta pemerintah.

Dalam penyelenggaraan pariwisata, ketiga peran (fasilitator, dinamisator dan operator) sangat menentukan tingkat keberhasilan pengelolaan komponen daya
tarik wisata (sumber daya alam termasuk pengelolaan agrowisata dan budaya)
karena peran merupakan aspek dinamis dari kedudukan apabila seseorang
melakukan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, berarti dia telah
menjalankan suatu peran (Suwantoro, 2004, hal. 34).

Kondisi Objek Agrowisata di Desa Jaboi sebagai Daerah Tujuan Wisata
(DTW)


Sebagai daerah tujuan wisata, perkembangan wisata jaboi diiringi dengan berbagai upaya guna memenuhi kebutuhan dan pelayanan bagi wisatawan serta menciptakan kondisi kawasan agrowisata yang kondusif. Empat komponen utama daerah tujuan wisata “Atraksi, Amenitas, Aksesibilitas dan Pelayanan Tambahan”. Keempat komponen itu sangat penting terhadap keberadaan suatu daerah tujuan
wisata serta memiliki nilai strategis karena dapat mengetahui sejauh mana suatu objek wisata telah memberikan kebermanfaatan selama aktivitas tersebut
berlangsung.

1. Atraksi
Atraksi di kawasan agrowisata Jaboi dapat dibedakan menjadi atraksi utama
dan atraksi pendukung. Atraksi utama di kawasan agrowisata desa Jaboi berupa
kegiatan wisata gunung berapi serta pemandangan, keunikan batuan, dan
keragaman tumbuhannya. Selain atraksi utama terdapat pula atraksi pendukung
seperti halnya berkeliling gunung berapi dengan cara menggunakan motor ATV
dan juga adanya papan pemanah.
2. Amenitas
Kondisi amenitas di desa Jaboi belum sepenuhnya optimal karena masih
kurangnya fasilitas objek oleh pemerintah. Akan tetapi masih diperlukan adanya
koordinasi antar kegiatan wisata serta peningkatan fasilitas lainnya seperti promosi lokasi wisata dan penunjuk jalan guna memudahkan wisatawan yang berkunjung.
3. Aksesibilitas
Kondisi aksesibilitas di desa Jaboi secara umum cukup mudah dijangkau di sekitarnya. Dengan kondisi aksesibilitas yang mudah dicapai maka akan
mendukung dan memperkuat konektivitas
4. Pelayanan Tambahan
Pelayanan informasi terkait aktivitas di lokasi agrowisata Jaboi disampaikan
secara langsung kepada wisatawan oleh penyedia jasa wisata dari masyarakat
sekitar. Dalam hal ini masyarakat dinilai lebih mengetahui serta dapat
menginterpretasikan dengan baik terkait kondisi desa Jaboi dengan segala potensi
alam dan budayanya.

Upaya Pengelolaan Agrowisata oleh Masyarakat di Desa Jaboi


Peran yang dilakukan oleh masyarakat yakni sebagai tenaga kerja baik untuk kegiatan pertanian maupun wisata. Masyarakat yang bekerja melalui
penyedia jasa dan pelayanan wisata mencakup pemandu wisata, supir, akomodasi dan sebagainya. Pengelolaan agrowisata jaboi juga dilakukan secara bersama dengan melibatkan peran pemerintah mahasiswa yang melakukan kegiatan seperti kuliah kerja nyata (KKN), pengabdian dan sebagainya guna memajukan perkembangan wilayah terutama di perdesaan.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan suatu daerah tujuan wisata (DTW),
kegiatan pertanian masyarakat di Desa Jaboi secara tidak langsung telah
membentuk suatu atraksi wisata tersendiri yang mengandalkan potensi gunung berapi serta pemandangan, keunikan batuan, dan keragaman tumbuhannya. Kondisi objek agrowisata di Desa Jaboi sebagai Daerah Tujuan Wisata (DTW) dapat ditinjau melalui komponen atraksi, amenitas, aksesibilitas dan pelayanan tambahan sebagai upaya dalam meningkatkan pembangunan pariwisata daerah.

Untuk tetap menjaga eksistensi objek tidak hanya sekedar berdasarkan aspirasi dari pemerintah (top down), akan tetapi juga melalui penggalian potensi wilayah yang ditetapkan untuk kegiatan agrowisata serta aspirasi yang ada di dalam
masyarakat atau secara bottom up.

DAFTAR PUSTAKA


Beratha, N. (1982). Masyarakat Desa dan Pembangunan Desa. Jakarta: Ghalia
Indonesia.
Herdiansyah, Haris. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif untuk Ilmu-ilmu Sosial.
Jakarta Selatan: Salemba Humanika.
Lisnawati. 2022 “Peran dan Kendala Masyarakat Dalam Pengelolaan Agtowisata
di Desa Jaboi Kecamatan Sukajaya Kota Sabang, Aceh”
Suwena, I Ketut. 2010. Pengetahuan Dasar Ilmu Pariwisata. Denpasar: Udayana
University Press
Suwantoro, G. (2004). Dasar-dasar Pariwisata. Yogyakarta: Andi.
Shahab, K. (2013). Sosiologi Pedesaan. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Gunung Berapi Jaboi
Gunung Berapi Jaboi
Gunung Berapi Jaboi

Leave a Reply