Pengaruh Sektor Pertanian Dalam
Pemanasan Global

Oleh : Qhonita Sofya (Universitas Lampung)


Pemanasan global merupakan issue global yang harus menjadi diskusi seluruh negara baik negara maju maupun berkembang. Karena bukan negara maju yang memiliki banyak industri
saja yang menyumbangkan emisi dan gas rumah kaca terbesar, nyatanya negara berkembang juga menjadi salah satu penyumbang emisi dan gas rumah kaca yang terjadi saat ini, salah
satunya pada bidang pertanian. Pada tahun 2015 silam dibentuknya sebuah konferensi di bawah Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC) yang menghasilkan sebuah kesepakatan yang dinamakan Perjanjian Paris, yang mana inti dari isi klausul ini adalah setiap negara menentukan, merancang serta melaporkan dengan tetap sumbangan mereka sendiri demi menangani pemanasan global. Tiada mekanisme yang memaksa sebuah negara menetapkan sasaran tertentu, tetapi setiap sasaran baru yang ditetapkan harus pergi melangki sasaran yang ditetapkan sebelumnya. Peningkatan suhu
bumi yang disebabkan oleh penambahan emisi dan gas rumah kaca (GKR) kini menjadi problematika yang harusnya menjadi perhatian global termasuk Indonesia. Berbagai efek
kini mulai terasa hampir diseluruh bagian negara, mulai dari penambahan volume air laut akibat dari kenaikan suhu diatas permukaan bumi yang menyebabkan es dikutub utara dan kutub selatan perlahan mencair, sampai perubahan cuaca yang fluktuatif dan sulit diprediksi.
Indonesia menjadi salah satu negara penyumbang emisi dan gas rumah kaca terbesar dari berbagai aspek salah satunya adalah dalam pertanian dan peternakan.

Hal diatas tercantum dalam Peraturan Presiden No 61 tahun 2011 Pasal 2, tentang Rencana Aksi Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca yang disingkat RAN-GRK. Target penurunan GRK dari sektor pertanian sebesar 0,008 gigaton pada tahun 2020. GRK terdiri dari gas-gas
karbon, terutama gas Karbondioksida (CO2) dan Metana (CH4). GRK merupakan gas alam sederhana, yang dihasilkan secara alami oleh mahkluk hidup, baik hewan, maupun tumbuhan (Rusbiantoro, 2008). Hal ini tidak lain tidak bukan salah satu penyumbang gas N2O dan CH4

berasal dari kandungan kimia dalam pupuk anorganik dan bisa jadi berasal dari sisa kotoran hewan, peningkatan emisi dan gas rumah kaca ini diprediksi akan terus bertambah seiring dengan penambahan penggunaan lahan pertanian dalam rangka menghasilkan dan menyediakan stok bahan pangan pokok hingga bidang peternakan yaitu peningkatan jumlah permintaan daging. Terlebih lagi negara Indonesia, adalah negara agraris dan maritim yang
mayoritas mata pencahaian masyarakatnya adalah petani dan nelayan.

Menurut penelitian yang telah dilakukan dalam (Lintangrino : 2016), sektor pertanian menyumbang 10-12% dari total gas rumah kaca antropogenik , yang terdiri gas N2O dan CH4, Sedangkan, sektor peternakan menyumbang sekitar 18%-51% gas rumah kaca antropogenik, yang sebagian besar terdiri dari gas CH4. Menurut hasil penelitian “Inventarisasi Emisi Gas Rumah Kaca Pada Sektor Pertanian Dan Peternakan Di Kota
Surabaya” bahwasannya karbondioksida (CO2), metana (CH4) dan nitro oksida (N2O) harus menjadi perhatian khusus dalam sektor pertanian dan peternakan. CO2 kebanyakan berasal dari pelepasan CO2 akibat pembusukan mikroba yang terjadi didalam tanah, pembakaran
seresah kering dan pembakaran lainnya dalam rangka pembukaan lahan pertanian. CH4 biasanya banyak berasal dari akibat dekomposisi bahan organic, proses fermentasi pencernaan pada ruminansia, kotoran hewan CH4. Sedangkan N2O kebanyakan berasaldari
transformasi mikroba baik pada tanah maupun kotoran hewan. Sebenarnya senyawa N2O ini yang memiliki potensi dan presentase terbesar dalam penyumbangan emisi dan gas rumah
kaca yaitu sebesar 298 kali lebih dari CO2 sehingga jika jumlah N2O yang teremisi pun kecil namun tetap saja dia akan menjad pemicu peningkatan pemanasan global. Berbicara dalam ranah pertanian tentunya tidak akan terlepas dari senyawa kimia baik itu yang terkadang
didalam pupuk atau dari obat dan pestisida. Saat ini hampir seluruh petani di Indonesia menggunakan pupuk kimia anorganik yang menjadi salah satu penyumbang gas nitrogen
yang terbilang besar. Penjabaran realita yang terjadi di lapangan dijelaskan oleh Balitbang dalam tabloid Sinar tani, sebesar 90% senyawa CH4 yang berasal dari tanaman padi dilepaskan melalui pembuluh aerenkima tanaman. Namun kemampuan dalam melepaskan gas CH4 berbeda-beda tergantung karakteristik varietas padi seperti sifat, umur dan aktifitas akar. Hal ini masih berkaitan dengan lamanya siklus tanaman padi, semakin lama periode siklus padi maka akan seakin besar juga eksudat dan biomas akar yang terbentuk sehingga
senyawa CH4 juga akan semakin tinggi. Eksudat ini merupakan senyawa organic pembentuk CH4 yang mengandun gula, asam amino dan asam organic. Ironisnya dalam budidaya padi ini tidak dapat dihidarkan dari penggunaan pupuk anorganik. Pemberian pupuk N (Urea dan
ZA) sudah menjadi suatu keharusan yang diberikan dalam mendobrak produksi padi, namun pemberian ini berakibatkan penyumbangan GRK terbesar, terlebih lagi pemberian pupuk sebanyak 2-3 kali dalam satu periode tanam. Akan tetapi tidak adapt dipungkiri juga manfaat
penggunaan dari pupuk anorganik ini lebih efektif dan efisien, sehingga tidak heran mengapa saat ini petani sangat bergantug pada pupuk anorganik ini. Begitu juga halnya dengan peternakan. Bahwasannya kotoran baik cair maupun padat memiliki potensi mengemisikan
gas metana (CH4) dan nitro oksida (N2O). Hal ini sangat dipengaruhi oleh jumlah kotoran yang dikeluarkan bergantung padA kotoran yang didekomposisi secara anorganik. Emisi gas N2O terbagi menjadi 2 cara yaitu secara langsung dan tidak langsung. Emisi gas N2O secara
langsung terjadi pada proses nitrifikasi dan denirfikasi nitrogen yang berada dalam kotoran ternak. Sedangkan emisi secara tidak langsung terjadi pada saat penguapan nitrogen dalam
bentuk ammonia atau NOx.

Penambahan emisi dari sektor pertanian diprediksi akan terus melonjak seiring dengan peningkatan kebutuhan pangan. Oleh karena itu, kenaikan CH4 di atmosfer tersebut perlu diantisipasi mengingat pemanasan global yang ditimbulkannya per satu molekul gas metana
di troposfer 21 kali lebih tinggi daripada pemanasan satu molekul CO2. Laporan kementrian lingkungan hidup tahun 2015 tentang nilai emisi di Indonesia menujukkan bahwa sektor
pertanian yang berasal dari kegiatan budidaya padi sawah menyumbang 30,7%, serta emisi NO2 langsung dari tanah yang dikelola menyumbang sebesar 29% (KLH 2013). Setelah melihat dan membaca issue global yang saat ini sedang hangat terjadi yaitu pemanasan global, umumnya mengetahui bahwa sektor pertanian ikut serta dalam menyumbang dalam fenomena ini mungkin masih sedikit orang tersadar akan hal itu. Sejak dahulu dalam pakem pemikiran masyarakat awam bahwa yang menyebabakan pemanasan global adalahindustryindustri yang berkaitan dengan mesin dan alat-alat yang mengahsilkan gas-gas tertentuyang
menyebabkan polusi dan, kenaikan suhu di atas permukaan bumi seperti asap mobil/motor, efek penggunaaan AC dan kulkas, dll. Seperti yang kita tahu bahwasannya dampak dari emisi
dan gas rumah kaca itu sendiri sangat memengaruhi sektor pertanian itu sendiri, seperti kenaikan suhu yang semakin meningkat tiap tahun dapat menyebabkan kerusakan pada komoditas tanaman yang tidak tahan akan suhu tinggi, perubahan cuaca yang fluktuatif sehingga sulit diprediksi, mengakibatkan jadwal tanam petani ikut begeser karena harus
menyesuaikan dengan cuaca yang sesuai dengan karakteristik tanaman.

Sangat ironis bukan? Ketika,sektor pertanian ini menjadi salah satu sektor penyumbang emisi gas rumah kaca yang cukup besar, tetapi sekaligus menjadi sektor yang sangat merasakan
dampak yang terjadi akibat fenomena ini. Lalu langkah apa yang harus dilakukan oleh sector pertanian ini agar dapat mengurangi sumbangan emisi gas rumah kaca?. Dilansir dari portal berita pertanian oleh Fakultas Pertanian Universitas Lampung, menegaskan perlunya ada
mitigasi gas rumah kaca melalui manajemen lahan yang berkelanjutan yang bukan hanya mampu meningkatkan penyerapan karbon, tetapi juga dapat mengurangi emisi gas CO2 dari
sektor pertanian. Strategi penambahan unsur karbon dalam tanah tidak hanya bertujuan pada penguranagn emisi gas rumah kaca akan tetapi juga sebagai bentuk restrukturisasi tanah,
sebagai salah satu bentuk penerapan pengelolaan lahan berkelanjutan, ialah dengan cara meningkatkan C dalam tanah sebesar 4/1000 per tahun (” 4 per mile Soil for Food Security and Climate) sebagai kebijakan global yang dapat dipenuhi. Selain itu juga, dilansir dari tabloid Sinar tani oleh Balitbang, dalam series Agroinovasi dipaparkan beberapa inovasi baru perlakuan dalam melakukan usahatani salah satunya yaitu pada proses awal pengolahan tanah, yaitu rejim air. Penggenanagan tanah yag selama dilakukan oleh petani
tidak selamanya harus tergenang, justru hal ini yang meningkatkan emisi gas metana (CH4), sehingga cara yang baik dan effisien dalam menekan emisi gas metana adalah melakukan pengairan yang terputus-putus (intermittent), cara ini terbukti dapat mengurangi emisi gas
metana sebanyak 41%-45%. Upaya untuk mereduksi emisi gas rumah kaca khususnya gas N2O adalah dengan segera menanam tanaman setelah pengolahan tanah (menghindari tanah
dalam keadaan bera) dan menanam tanaman penutup selama periode bera untuk mengurangi konsentrasi nitrat dan amonia dalam tanah, serta memberikan kapur pada lahan masam.
Besarnya emisi CO2 yang terjadi pada lahan pertanian tidak luput dari teknik pengelolaan tanah. Pada lahan yang dibiarkan bera gas CO2 secara umum teremisi ke atmosfer. Hal ini
terjadi karena tidak adanya pertanaman dan proses fotosíntesis tidak terjadi sehingga tidak ada media yang berfungsi sebagai penyerap CO2 . contoh tanaman penutup yang dapat digunakan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca adalah tumbuh-tumbuhan yang berasal dari Leguminosae atau tanaman kacang – kacangan. Berikut itu tadi adalah beberapa dari sekian inovasi yang dapat dilakukan oleh petani sebagai pelaku dilapangan yang secara langsung mereka yang menyumbang emisi gas rumah kaca dan kita sebagai mahasiswa, dosen, civitas akademik dalam lingkup pertanian yang juga harus tahu dan mengerti karena
kita adalah pelaku dalam sistem pertanian, yang mana memiliki tanggungjawab dalam mengedukasi masyarakat sekaligus petani untuk ikut menjaga bumi lewat pekerjaan kita
masing-masing. Tanggungjawab menjaga kelestarian bumi ini bukan hanya tanggung jawab orang yang berkecimpung dalam pertanian saja, akan tetapi seluruh manusia karena pada dasarnya mereka adalah pihak yang kita penuhi akan kebutuhan pangannya sehingga kita dan
mereka memiliki tanggung jawab yang sama.

DAFTAR PUSTAKA


fpunila.ac.id. 16 Agustus 2018. Pertanian, Pemanasan Global dan Mitigasi Gas Ruma
Kaca. diakses pada 25 April 2022, dari
https://fp.unila.ac.id/pertanian-pemanasan-global-dan-mitigasi-gas-rumah-kaca/
Kartikawati, R. et al. (2011) ‘Teknologi Mitigasi Gas Rumah Kaca (GRK) Dari Lahan
Sawah’, Agroinovasi, XLII(3423), pp. 7–12.
Khairana, U. (2018) ‘Potensi Gas Rumah Kaca Pada Lahan Padi Sawah di Kabupaten
Sleman Bagian Barat Daerah Istimewa Yogyakarta’, pp. 1–17. Available at:
dspace.uii.ac.id.
Kementrian Lingkungan Hidup.2013.Buku I: Pedoman Umum Penyelenggaraan
Inventarisasi Emisi Gas Rumah Kaca Nasional.Jakarta:Kementrian Lingkungan
Hidup.
Lintangrino, M. C. (2016) ‘From Agricultural and Livestock’.
Lintangrino, M. C. and Boedisantoso, R. (2016) ‘Inventarisasi Emisi Gas Rumah Kaca
Pada Sektor Pertanian dan Peternakan di Kota Surabaya’, Jurnal Teknik ITS, 5(2).
doi: 10.12962/j23373539.v5i2.16528.
Rusbiantoro,D.2008. Global Warming For Beginner. Yogyakarta: Penerbit O Penembahan
Yogyakarta.

Leave a Reply