Harapan dan Peluang Sektor Pertanian di Masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat

Oleh: Hamdil Fajri (MISETA FP UNJA – Staff Kajian Strategis & Advokasi DPW 1 POPMASEPI)

Meningkatnya kasus pandemi Covid-19 pada beberapa hari terakhir di berbagai wilayah indonesia menyebabkan pemerintah mengambil langkah tegas untuk menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. Pemerintah menetapkan PPKM Darurat ini sebagai langkah untuk merespon lonjakan kasus pandemi sejak Juni-Juli 2021. Diketahui pada saat ini jumlah kasus yang dilaporkan Kementrian Kesehatan Republik Indonesia yang terdata sejak rabu 30 juni- kamis 1 Juli 2021 pada pukul 12.00 WIB mencapai angka 2.203.108 kasus. Dari jumlah kasus kersebut terdiri dari penambahan korban positif dalam satu hari sebanyak 24.836 orang, korban yang dinyatakan sembuh sebanyak 1.890.287 orang serta jumlah korban meningal 58.995 orang. Dari keterangan tersebut indonesia masuk ke urutan 17 negara dengan jumlah kasus terbanyak di dunia. Penetapan PPKM darurat ini menjadi perbincangan dalam berbagai kalangan karena akan mempengaruhi kondisi perekonomian nasional dimana dengan adanya pengetatan di segala aktivitas masyarakat tentu akan berkemungkinan berdampak ke berbagai sektor.
Dilansir dari Kompas.Com, dampak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat yang berpotensi berimbas terhadap kinerja kegiatan dunia usaha pada triwulan III-2021. Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan, berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU), responden memprakirakan kegiatan usaha melambat pada triwulan III-2021 dibandingkan dengan capaian pada triwulan sebelumnya. Erwin menjelaskan, perlambatan kegiatan usaha diperkirakan terjadi pada beberapa sektor ekonomi seperti sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan. “Sementara itu kinerja beberapa sektor diprakirakan menurun seperti sektor industri pengolahan serta sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan. Sementara itu, pada triwulan II-2021, hasil SKDU mengindikasikan bahwa kegiatan dunia usaha terakselerasi. Hal ini tercermin dari nilai SBT yang meningkat sebesar 18,98 persen, dibandingkan 4,50 persen pada triwulan I-2021. Peningkatan tersebut didorong oleh kinerja sejumlah sektor yang mayoritas tumbuh positif antara lain sektor pertambangan dan penggalian, sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta Sektor Pertanian. Beberapa sektor yang sebelumnya menunjukkan pertumbuhan positif dan pada saat ini mengalami penurunan drastis bahkan sampai menyebabkan penurunan produksi dan pengurangan karyawan. Namun lain halnya dengan sektor pertanian, sektor ini pada triwulan I-2021 mengalami peningkatan yang fenomenal dan juga diprediksi ikut merasakan dampak dari PPKM darurat. Dengan adanya pembatasan aktivitas kepada masyarakat, dinilai akan memberikan dampak Positif dan negatif pada sektor pertanian.
PPKM Darurat, pada satu sisi akan memberikan dampak negatif pada komoditas pertanian yang orientasinya untuk pasar di wilayah zona merah karena pembatasan mobilitas yang sangat ketat. Dari hal ini akan menyebabkan adanya penurunan permintaan di beberapa komoditas pertanian untuk lingkaran lokal. Permasalahan ini mendapat respon dari Serikat Petani Indonesia, mereka meminta pemerintah memastikan distribusi pangan tidak terganggu dengan adanya PPKM Darurat. Salah satu caranya adalah memaksimalkan peran koperasi pertanian dan Bulog, mereka juga mengingatkan pembatasan mobilitas yang dilakukan pada awal pandemi yang menyebabkan dristribusi panen tidak optimal dan harga jual menjadi berfluktualtif karena adanya penurunan permintaan.
Guna merespon situasi ini, pemerintah diminta untuk memperhatikan kesejahteraan petani. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Juni 2021 sebesar 103,59 atau naik 0,19% dibandingkan NTP bulan Mei 2021. Kenaikan ini disebabkan indeks harga yang diterima petani naik sebesar 0,01%, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (lb) turun sebesar 0,18%. Pemerintah harus memberi perhatian lebih terhadap subsektor-subsektor penyusun NTP yang tengah mengalami penurunan. Meskipun secara umum trennya positif, terlihat NTP subsektor tanaman pangan dan hortikultura berada di bawah standar impas (100), masing-masing 97,27 dan 98,98. Perkembangan dua subsektor tersebut fluktuatif, salah satunya pada NTP subsektor pangan. Sejak awal tahun, tren subsektor ini terus menurun bahkan di bawah standar impas sejak Februari 2021. Sementara NTP subsektor holtikultura yang sempat mengalami tren kenaikan justru turun di bawah standar impas untuk Juni 2021. Itu salah satu konsekuensi dari adanya pembatasan sosial yang lebih ketat karena penawaran ke restoran, hotel, cafe dan pusat-pusat perbelanjaan saat ini tentu akan sangat mengalami tekanan.
Sektor pertanian di sisi lain bisa juga menjadi peluang ketika pada periode yang sama sektor formal dan manufaktur sangat tertekan akibat adanya pemberlakuan PPKM Darurat hingga menyebabkan penurunan kegiatan yang berakibat pada pengurangan tenaga kerja. Hal ini dibuktikan dalam satu tahun terakhir, penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian meningkat, fenomena ini sebenarnya adalah peluang. Artinya sektor pertanian bisa jadi sektor yang menampung sementara pengangguran di sektor formal hingga sektor formal tersebut pulih kembali. Terlebih lagi sektor pertanian masih diunggulkan dalam perdagangan internasional. Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira mengatakan bahwa komoditas pertanian yang berorientasi pada pasar ekspor tidak akan terganggu dengan PPKM Darurat. Hal ini karena beberapa komoditas ekspor saat ini memiliki harga relatif tinggi di pasar internasional. Bhima mencontohkan harga Crude Palm Oil (CPO) meningkat 2 persen sejak awal tahun. Selain itu harga jual tebu naik 11,5 persen dan kapas naik 10,7 persen.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor produk pertanian naik 13,4 persen pada periode Januari-Mei 2021 dibanding periode sama tahun sebelumnya. Beberapa komoditas pertanian, lanjut dia, menunjukkan tren pertumbuhan ekspor yang tinggi. Selain karena harga internasional meningkat, permintaan dari beberapa negara mitra dagang Indonesia seperti Amerika, Eropa dan China juga terus tumbuh. “Jadi ada blessing in disguise dari adanya pengetatan mobilitas di Indonesia tapi di luar negeri permintaan beberapa komoditas pertanian justru bagus. Ini salah satu dampak PPKM Darurat di sektor pertanian. Kalau yang orientasinya ekspor, saya rasa tidak akan terganggu dengan adanya PPKM Darurat dan masih akan terus positif sepanjang tahun”.
Situasi ini dapat menjadi angin segar bagi masyarakat tani Indonesia. Mengingat saat ini sektor pertanian menjadi salah satu sektor andalan dan mampu bertransformasi hingga menjadi sektor penyangga nasional pada saat krisis akibat pandemi ini berlangsung. Demi mendukung peran serta sektor pertanian tersebut, diharapkan perlu adanya gagasan-gagasan yang tajam guna mendukung serta menarik perhatian masyarakat untuk terus mendukung terobosan-terobosan yang hadir dari sektor pertanian. Sektor ini diharapkan mampu memberikan kontribusi tanpa henti demi terwujudnya pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Mulai dari pemenuhan kebutuhan pada tingkat produsen dalam hal ini keluarga tani itu sendiri hingga mampu menyebarluaskan manfaatnya ke pihak lain yang dapat mengambil peran seperti sebagai distributor hingga ke tangan konsumen. Tentunya dalam mewujudkan hal ini, sebagai penyokongnya diharapkan kehadiran pemerintah atau bahkan kalangan akademisi seperti mahsiswa pada khusunya sebagai stimulan dan fasilitator di tengah-tengah masyarakat.
Hal ini juga dapat menjadi peluang bagi POPMASEPI untuk berperan dan mengambil keuntungan pada situasi ini, selaku organisasi keprofesian tertinggi dan satu-satunya dalam lingkup Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia. Peluang ini dapat diartikulasikan dalam bentuk kegiatan-kegiatan publikasi yang dapat membentuk citra positif sektor pertanian di masa pandemi, hal ini bertujuan untuk mewujudkan sebuah organisasi yang harus dan mampu untuk hadir di tengah-tengah masyarakat sipil sebagai stimulan demi tercapainya informasi yang up to date dan ilmiah. Peran ini seakan mampu menjadi penyeimbang atau bahkan mampu menjadi penawar dari adanya kerusakan ruang publik akibat berita-berita tidak benar dan tidak berlandaskan yang harus sama-sama kita “perangi” di masa pandemi ini.

Ada dan Tetap Satu Untuk Indonesia; Salam Profesi!!
Salam Profesi !! Salam Profesi!!
POPMASEPI !! JAYA !!

https://money.kompas.com/read/2021/07/14/125547126/bi-cermati-dampak-ppkm-darurat-ke-dunia-usaha
https://www.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-012146561/update-corona-indonesia-per-kamis-1-juli-2021-pecah-rekor-hampir-25000-pasien-meninggal-504
https://pertanian.sariagri.id/74142/dampak-positif-dan-negatif-pemberlakuan-ppkm-darurat-pada-sektor-pertanian
https://katadata.co.id/agustiyanti/berita/60e2836d26602/pemerintah-diminta-pastikan-distribusi-pangan-aman-selama-ppkm-darurat
https://www.metrotvnews.com/play/NgxCrG30-mentan-pastikan-stok-pangan-aman-selama-ppkm-darurat
https://sumut.antaranews.com/berita/403410/menterin-pertanian-pastikan-stok-pangan-aman-selama-ppkm
https://pertanian.sariagri.id/74387/ppkm-darurat-kementan-gencarkan-distribusi-pangan-online-gratis-ongkir

Leave a Reply